Kurikulum

woman-notebook-working-girl

Untuk mencapai tujuan-tujuan yang disebutkan, Pondok Pesantren Budi Mulia mencoba melakukan penataan secara menyeluruh terhadap dua aspek utama pendekatan pendidikan, yaitu pendekatan terhadap materi/isi dan pendekatan terhadap subjek. Atau secara lebih sederhana diupayakan penataan yang serius terhadap materi pelajaran dan terhadap model interaksi antar subjek atau peserta pendidikan. Untuk lebih memperjelas hal ini, berikut diberikan gambaran yang lebih khusus terhadap tiga hal utama, yakni : 1) jenis program pendidikan, 2) gambaran materi pendidikan, 3) gambaran santri, dan 4) gambaran interaksi

1) Jenis Program Pendidikan

Pondok Pesantren Budi Mulia Mulia tahun ajaran memiliki dua jenis program pendidikan dilihat dari keterlibatan para santri, yakni program pendidikan regular selama dua/tiga tahun dan program pendidikan non-reguler setiap malam Jum’at. Untuk program pendidikan reguler santri diharuskan menetap di asrama pondok pesantren, dan mengikat perjanjian dengan pondok pesantren untuk mengikuti pendidikan secara penuh. Para santri untuk program regular tersebut disebut “Santri Tetap”.

Untuk program non-reguler, santri mengikuti pembimbingan khusus yang disebut “Pengembangan Kepribadian Muslim” yang diasuh oleh K.H. Suprapto Ibnu Juraimi. Untuk program ini, para santri tidak menetap di asrama pondok pesantren. Para santri untuk program ini disebut “santri lepas”.

2) Gambaran Materi Pendidikan (Kurikulum)

Pondok Pesantren Budi Mulia menyediakan empat jenis utama materi pendidikan, yakni

A) Pengembangan Kepribadian Muslim

Aktivitas ini meliputi pembimbingan, baik teoritis maupun praktis, terutama yang berkaitan dengan akhlaq maupun pelaksanaan ibadah khusus. Dalam rangkaian pengembangan kepribadian Muslim dilaksanakan juga “Pengajian Keluhuran Budi” yang dipimpin oleh Ustadz Fathurrahman Kamal.

B) Perkuliahan.

Kegiatan perkuliahan meliputi dua jenis materi, yaitu materi pokok dan materi penunjang. Materi pokok terdiri dari Bahasa Arab, Ulumul Qur`an, Ulumul Hadits, Ushul Fiqih, Aqidah, Bahasa Inggris. Materi penunjang meliputi Sejarah Perjuangan Umat Islam, Fiqih Syiyasah, Fiqih Dakwah, Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Islam, Pengantar Ekonomi Islam, Pengantar Politik Islam, Hukum dan Hak Asasi Manusia Dalam Pandangan Islam, dan lain-lain.

C) Seminar.

Para santri mengembangkan seminar di antara mereka sendiri.

D) Training.

Setiap semester dilaksanakan tarining yang terdiri dari :
Training Jurnalistik, Training Ideologi, Politik dan Organisasi (Iedopolitor), Training Perencanaan Dakwah Strategis, Training Penelitian Dakwah.

E) Kuliah Kerja Nyata.

Selama satu semester santri mengembangkan dakwah pada satu komunitas masyarakat tertentu.

F) Oto Aktivitas Santri.

Kendati bersifat mandiri, kegiatan ini dilaksanakan secara teratur dan berencana, antara lain :

  • Pesantren Anak dan Remaja (PAR), yakni kegiatan pesantren untuk anak dan remaja yang dilakukan selama liburan sekolah tiap tahunnya yang diikuti oleh peserta dari berbagai daerah. Kegiatan ini sampai tahun 2008 sudah dilakukan sebanyak 16 kali dengan rata-rata peserta 60 orang.
  • Pengajian I’tikaf Ramadhan (PIR) yang diselenggarakan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan di bawah koordinasi Laboratorium Dakwah Yayasan Shalahuddin. Kegiatan ini sampai tahun 2016 sudah dilakukan sebanyak 34 kali. Peserta kegiatan ini sebagain besar merupakan perwakilan aktivis dakwah kampus dari berbagai perguruan tinggi se Indonesia serta peserta umum yang rata-rata tiap tahunnya sebanyak 100 orang.
  • Kajian Umum Malam Jum`at atau Universitas malam Jum`at (UMJ). Kegiatan ini dilakukan tiap malam Jum`at sampai Jum`at pagi yang merupakan kegiatan kajian keislaman, Shalat Lail bersama dilanjutkan kajian pagi yang diikuti baik santri tatap maupun oleh santri dari luar (santri lepas).

Selain itu kegiatan santri sebagai bentuk pengabdian masyarakat berupa kegiatan:

  • Pendidikan Al-Qur`an bagi anak-anak (TPA) bagi masyarakat sekitar yang diselenggarakan di PP Budi Mulia.
  • Pengajian Embun Pagi bagi remaja putri dan Ibu-ibu yang ada di sekitar komplek pondok, dengan tema kajian tentang masalah keluarga dan kerumahtanggaan, yang sampai saat ini jumlah jamaahnya lebih dari 75 orang. Untuk selanjutnya, kegiatan ini diitegrasikan bersama dengan kegiatan pengajian masjid Perumahan yang lokasinya dekat dengan Pondok Pesantren.
  • Pengajian Umum Jum’at Pagi “Cahaya Iman” yang pesertanya dari kalangan masyarakat umum terutama orang tua yang diselenggarakan sepekan sekali di Pondok Pesantren Budi Mulia dengan jumlah jamaahnya sekitar 150 orang.
  • Bantuan hewan kurban dan kegiatan bakti sosial `Idul Adha bagi masyarakat umum yang membutuhkan, terutama di daerah Magelang, Kulon Progo dan Gunung Kidul.

3) Gambaran Santri

Santri pondok pesatren Budi Mulia sejak semula dikhususkan untuk mahasiswa dari berbagai wilayah di Indonesia dan dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta baik negeri mauapun swasta seperi UGM, UNY, UIN, UII, UMY, dan lain sebagainya. Sistim penerimaannya melalui seleksi mengenai kualifikasi calon santri antara lain kemampuan baca tulis Al Qur`an, wawasan dasar Islam, komitmen santri dan potensi akademik yang dibuktikan dengan indek prestasi (IP). Sampai saat ini Pondok Pesantren Budi Mulia telah meluluskan sebanyak 13 angkatan. Dan sejak tahun 2016 jumlah santri Pondok Pesantren Budi Mulia untuk angkatan XIII ada 50 orang untuk santri tetap dan 50 orang untuk santri lepas. Sementara itu santri untuk program khusus “Pengajian I`tikaf Ramadhan” rata-rata pertahun 100 orang, dan program khusus Pesantren Anak dan Remaja rata-rata pertahun 80 orang.

4) Gambaran Interaksi

Interaksi antara santri dengan pengelola Pondok Pesantren Budi Mulia diupayakan secara terbuka. Aktifitas pendidikan di dalam pondok pesantren dokoordinasi oleh “Imam” atau “Kyai” pondok pesantren, sementara managemen umum ditangani oleh Pengurus Pondok Pesantren Budi Mulia. Dalam pelaksanaan pendidikan sehari-hari, di samping Kyai, ada juga para dosen untuk berbagai mata kuliah.

Intreraksi yang terbuka di bawah bimbingan Kyai atau bertindak sebagai Imam Pondok dalam arti yang luas, memungkinkan para santri mengembangkan dirinya sendiri dengan prinsip “self help” atau menolong diri sendiri. Bentuk interaksi yang demikian ini dikembangkan dengan pertimbangan bahwa pendidikan bagi orang yang berangkat dewasa sesungguhnya berfungsi ganda, yakni sebagai transfer nilai dan pengetahuan, serta sebagai upaya pengembangan diri.